Mengupas Penanggalan Shio Di Klenteng Tjoe Hwie Kiong

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Memanfaatkan waktu bertanya jawab saat malam Tahun Baru Imlek, Serda Abu Nur Arifin dan Aipda Beny M.P. mendatangi Klenteng Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong, dan ditempat ibadah ini, keduanya ditemui langsung Prajitno Sutikno, pengurus tempat ibadah tersebut. selasa (5/2/2019)

Lewat bincang santai yang dilakukan disebelah tempat persembahyangan, Prajitno menjelaskan konsep shio yang sebenarnya. Menurut Prajitno, shio mewakili konsep siklus waktu, dan shio menandakan fungsi sosial yang berguna untuk mencari tahu umur seseorang.

Dijelaskan Prajitno, kalendar Imlek dibuat berdasarkan siklus dari bulan, dan dibangun dalam format berbeda dari kalendar Gregorian yang berbasiskan Matahari. Dalam kalendar Imlek, awal tahun dimulai antara akhir Januari dan awal Februari versi kalender Gregorian.

Dalam tradisional, metode penanggalan adalah berdasarkan siklus, siklus berarti sesuatu terjadi berdasarkan siklus waktu. Metode yang populer dapat melihat metode siklus ini adalah perekaman tahun ke dalam “12 tanda binatang” dan astrologi Imlek berotasi dalam siklus 60 tahunan.

“Berbeda dengan Zodiak yang menyatakan suatu siklus tahunan dari 12 wilayah sepanjang lingkaran ekliptik, yaitu suatu pola lintasan perubahan posisi matahari, dan lingkaran ekliptik ini dibagi oleh gugus-gugus bintang menjadi 12 area dengan ukuran busur yang sama,” jelas Prajitno.

Alam semesta, menurut Prajitno, terdiri dari medan energi yang dikenal sebagai "Qi", dan Matahari, Bulan, Bumi serta planet-planet lain memancarkan energi kosmis yang terus berubah seiring waktu tergantung pada posisi relatif planet-planet.

Salah satu dari setiap tahun adalah yin atau yang. Tahun-tahun “Ganjil” adalah Yin dan tahun-tahun yang “genap” adalah Yang. Energi kosmis ini menjadi 22 pilar energi yang dikenal sebagai Sepuluh Batang Surgawi dan Dua Belas Cabang Bumi.

“Dari kombinasi batang surgawi dan cabang duniawi ini, Kalender Surya diturunkan yang sangat mirip dengan kalender Gregorian, karena juga didasarkan pada orbit bumi di sekitar matahari,” ungkap Prajitno.

Berdasarkan astrologi, tanggal lahir seseorang dibagi menjadi 4 batang surgawi dan 4 cabang duniawi yang membentuk empat pilar takdir yang dikenal sebagai BaZi. Empat pilar memegang 4 batang surgawi dan 4 cabang duniawi dalam bagan kelahiran BaZi dan bersama-sama mereka membuat pilar tahun, pilar bulan, pilar hari dan pilar jam.

Prajitno menyakini, konsep empat pilar takdir dipercaya lebih akurat, serta memberitahu lebih jelas mengenai kehidupan pribadi secara keseluruhan. Empat pilar takdir memiliki empat faktor dalam susunannya. Hal tersebut juga dikombinasikan dengan yin dan yang serta 5 unsur, yaitu air, tanah, kayu, logam dan api.

Bincang santai tersebut terpaksa dihentikan, lantaran waktu persembahyangan segera dimulai, dan tentunya waktu persembahyangan lebih utama dari yang lainnya. Prajitno, berharap, di Tahun Baru Imlek ini, semuanya akan lebih baik dari sebelumnya, dan melanjutkan kesuksesan di tahun baru ini. (aang)

  • Whatsapp

Index Berita