Dulu Disepelekan, Tapi Kini Tiwul Menjadi Menu Kuliner Di Kediri

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Di jaman dulu, Tiwul menjadi acuan bagi status “keluarga miskin”, lantaran tak mampu membeli beras. Tapi tidak di jaman sekarang, tiwul justru ada di tempat-tempat berkelas. Dari sudut historis, tiwul tidak lepas dari sejarah, dari era kolonial hingga masa perebutan kemerdekaan. kamis (21/3/2019)

Keberadaan tiwul tidak lagi identik dengan status keluarga miskin, hal ini dibuktikan Pelda Kambali, Babinsa Koramil Mojo. Di Desa Blimbing, Jugo, Pamongan dan Petungroto, yang notabene masuk areal lereng Gunung Wilis, nasib tiwul bisa dikatakan bersaing ketat dengan beras atau nasi, dan hal ini sangat wajar.

Makanan tiwul oleh sebagian warga Desa Blimbing, Jugo, Pamongan dan Petungroto, sudah sangat akrab turun temurun dengan keberadaan tiwul di empat desa tersebut, jangan sekali-kali berasumsi negatif, karena tidak ada hubungannya dengan kondisi keuangan, dalam artian ekonomi.

Pernyataan Pelda Kambali bisa dibuktikan, bahwa keberadaan tiwul masuk ke rumah yang cukup mewah, sederhana hingga rumah ala pedesaan atau dari yang ada kendaraan roda dua hingga roda empat. Ini disebabkan makanan tiwul sudah menjadi budaya turun temurun yang tidak tertulis.

Pemandangan yang paling kontras, ada di warung-warung menuju arah puncak Gunung Wilis. Hampir 90% kuliner ditempat ini menyajikan menu tiwul, dan harganya relatif murah meriah.

Kesan tiwul sebagai makanan tradisional atau dibawah makanan berbahan dasar tepung terigu maupun beras atau nasi, tidak bakal ditemui di sekitaran arah puncak Gunung Wilis, justru sebaliknya.

Mobil yang terparkir dipinggir-pinggir jalan, bisa dikatakan mobil berkategori mewah, dan jauh dari kesan hanya sekedar “mampir”, tetapi memang sengaja untuk berhenti sejenak, sambil makan tiwul diketinggian diatas 800 meter dpl (diatas permukaan laut).

Berdasarkan keterangan Niko, warga Kelurahan Gubeng, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, kedatangannya ke Gunung Wilis tidak lepas ingin mencari sesuatu yang sejuk dan bisa menghilangkan kejenuhan.

Ia sudah tahu betul keberadaan tiwul di sepanjang jalan menuju arah puncak gunung Wilis, dan ia bersama 3 orang keluarganya berhenti sejenak untuk menikmati sajian tiwul.

Menurut Warsiti, salah satu pemilik warung, diakuinya, memang masih ada pengunjung yang hendak atau kembali dari arah puncak Gunung Wilis, enggan mencicipi tiwul, karena dianggap kurang bonafit.

Kalaupun toh memaksakan duduk di warung, mereka hanya sekedar minum kopi, teh atau segelas minuman bersoda. Namun, jumlah pengunjung tersebut sangat sedikit, justru jumlah pengunjung yang ingin menikmati sajian tiwul, sangat banyak.

Dulu, sekitar tahun 1990an, Desa Blimbing, Jugo, Pamongan dan Petungroto pernah mencapai masa kejayaan budidaya ketela pohon, namun lantaran dianggap kurang menjanjikan bagi kesejahteraan, semua petani beralih budidaya tanaman lainnya.

Dampak dari peralihan budidaya tersebut, tanaman ketela pohon yang merupakan bahan dasar utama pembuatan tiwul, saat ini hanya mendominasi di pekarangan rumah dan kalau ada yang mendapat ruang khusus di areal pertanian, jumlahnya hanya sedikit.

Sajian kuliner tiwul di warung hingga rumah makan atau depot, harganya relatif bervariasi, dari harga Rp 3.000,- per pincuk (tanpa tambahan lauk pauk), Rp 5.000,- per pincuk, Rp 8.000,- per pincuk (ada tambahan lauk pauk) hingga ada yang menembus angka Rp 10.000,- per pincuk. (aang)

 

 

  • Whatsapp

Index Berita