Ini Penjelasan Seputar Ogoh-Ogoh dari Kacamata Sesepuh Desa

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Ketertarikan terhadap ogoh-ogoh yang selalu hadir ketika Hari Raya Nyepi, khususnya di Kediri, membuat Pelda Ermat Sulaiman bersama Babinsa Tanon Serka Karyanto mengunjungi kediaman Murtaji, warga Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, sesepuh umat Hindu se-Kecamatan Papar, kemarin malam. selasa (26/2/2019)

Secara kebetulan, saat itu juga, beberapa warga terlihat sedang membuat ogoh-ogoh, dan ukurannya lumayan besar, rata-rata setinggi sekitar 2 meter dengan. Ada 7 ogoh-ogoh di halaman rumah Murtaji, 3 ogoh-ogoh sudah mendekati sempurna dan 4 ogoh-ogoh lainnya masih berwujud kerangka.

Terkait koneksi antara ogoh-ogoh dengan Nyepi, Murtaji menjelaskan, “Terlebih dulu saya awali, kita punya Sruti, Semerti, Sila, Sadacara, Atmanastuti. Sruti dan Semerti itu ada di Weda.”

Ia menambahkan, Kalau Sila, itu tingkah laku, kalau ada tingkah laku yang baik tetapi tidak tertulis di Weda, bisa jadi “Paugeran”. Dicontohkannya, apabila ada pemimpin yang wajib datang ke suatu acara jam 7 pagi, tetapi ia datang setengah jam lebih awal, hal ini adalah kedisiplinan dan hal ini bisa dijadikan Paugeran.

Sedangkan Sadacara, itu keputusan yang diputuskan oleh lembaga. Murtaji mencontohkan, kalau warga membangun Pura dan kalau sudah selesai diadakan “Melaspas”, dan hal ini tidak ada di Weda. Karena disana ada lembaga, hari ini untuk hari peresmian, akhirnya hal itu dijadikan Paugeran.

“Atmanastuti itu tradisi, contohnya “Bersih Desa”, kalau desanya bersih, warganya tentram, dan tradisi ini tidak ada di Weda. Termasuk ogoh-ogoh, kalau dikatakan tradisi, silahkan, tapi yang jelas, ogoh-ogoh ini dilambangkan “Kala”, yang mengerikan itu (sambil menunjuk ogoh-ogoh berwujud Batara Kala). Makanya, yang mengerikan ini dihilangkan, sehingga kita mendapat kerahayuan,” sambung Murtaji.

Ia mempersilahkan pendapat, bahwasannya ogoh-ogoh ini tradisi dan tidak terkoneksi secara langsung dengan Nyepi. Namun, dipastikan pawai ogoh-ogoh ini berdampak positif, karena dapat menghibur masyarakat, dalam artian membuat orang lain senang, khususnya yang berdomisili di Kecamatan Papar dan Kediri pada umumnya, sekaligus membangkitkan semangat.

Terkait bahan dasar pembuatan ogoh-ogoh, dijelaskan Murtaji, kalau ogoh-ogoh berbahan bambu. Sedangkan bahan lainnya, ada semen, lem, kertas dan cat. Waktu yang dibutuhkan, hal itu relatif, bisa seminggu bahkan ada yang kurang dari seminggu sudah selesai, dan kalau cepat, tentunya orang yang membuat jumlahnya banyak.

Mengenai filosofi yang ada dalam ogoh-ogoh ini, Murtaji mengatakan,” Kala itu menggambarkan nafsu, kita arak keliling desa, lalu dibawa ke Pura atau ditengah desa, setelah itu di “Besem” atau dibakar.”

Dijelaskan Murtaji, Ogoh-ogoh ini dibakar, agar sifat-sifat yang buruk dari gambaran Batara Kala ini hilang. Ditambahkannya, apabila alam ini bersih, raga manusia sudah bersih, setelah itu masuk kedalam kamar untuk “Kawastanan” atau semedi, untuk melaksanakan Catur Brata penyepian selama 24 jam.

“Selama sehari, kita melakukan amati geni, artinya kita tidak menyalakan api yang terlihat atau berwujud, dan api yang tidak terlihat, yaitu nafsu. Hari itu, kita tidak “Lelungan” atau bepergian, agar pikiran kita tidak “Ngoyoworo” atau “Wening”. Lalu ada amati lelaguan, hari itu kita tidak punya keinginan apa-apa atau kesenangan duniawi. Kita juga tidak makan hari itu atau puasa, dalam artian “Neposne Roso”. Jadi kita melakukannya saat Catur Brata,” ungkap Murtaji.

Diungkapkan Murtaji, pembakaran ogoh-ogoh ini adalah lambang dari nafsu yang harus diteluk atau diberantas. Nafsu yang dimaksud adalah iri hati, dengki, kesombongan, keduniawian, haus kekuasaan, suka menyebar hoaks, fitnah, kebencian dan lain-lain.

Perbincangan yang berlangsung malam hari di kediaman Murtaji ini sangat berkesan, terlebih saat itu pembuatan ogoh-ogoh dilakukan. Setidaknya, dengan mengetahui ogoh-ogoh, langsung dari nara sumber yang kredibel, informasi yang diterima dipastikan benar. Hal ini disebabkan, nara sumber berstatus orang yang mengerti betul serba serbi ogoh-ogoh ini. (aang)

 

  • Whatsapp

Index Berita