Membedah Tabir Riwayat Ringin Sembilan

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Untuk membuktikan suatu sejarah di masa lampau, duet Pelda Santoso dan Serma Jaenuri menelusuri riwayat salah satu pohon tua yang berada di areal Sendang Tirto Kamandanu. Sendang yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, sangat dikenal luas, tidak hanya warga Kediri, luar daerah atau luar pulau Jawa, mengenal lokasi ini. jumat (1/2/2019)

Bergenre “Mlaku Mlaku Babinsa”, Pelda Santoso dan Serma Jaenuri berniat membuktikan sejarah dari Ringin Sembilan, dan Ringin Sembilan lokasi berdampingan dengan keberadaan Sendang Tirto Kamandanu. Disamping pembuktian sejarah, apa yang dilakukan Pelda Santoso dan Serma Jaenuri semata-mata ingin berkomunikasi interaktif dengan siapa saja, termasuk juru kunci Sendang Tirto Kamandanu, Mbah Tugino.

Ringin Sembilan, sangat dikenal dan erat kaitannya dengan hal-hal diluar logika dan nalar sekalipun. Mbah Tugino atau Mbah No, membuka lembaran sejarah lewat penjelasan yang simple dan mudah dimengerti. Walaupun, dalam penjelasannya ada beberapa hal yang memang bertentangan dengan hukum fisika.

Dikatakan Mbah No, Ringin Sembilan tidak sekedar jejak sejarah keberadaan Sri Aji Joyoboyo sebelum moksa (lenyap), tetapi ada sejarah lain yang bisa diketahui oleh orang-orang yang memiliki kemampuan panca indera keenam.

Menurutnya, disekitar Ringin Sembilan banyak benda-benda pusaka yang tersimpan di dimensi lain atau dalam artian berbeda dimensi dengan kehidupan manusia. Benda-benda pusaka ini bisa dilihat dan diambil oleh orang-orang yang linuwih (kelebihan). Benda pusaka yang dimaksud Mbah No, bukan cuma benda-benda keris saja, bebatuan sejenis merah delima diketahui ada disekitar lokasi tersebut.

“Disini banyak benda-benda pusaka, tapi dunianya lain, tidak dilihat, yang melihat cuma orang linuwih (kelebihan). Jumlah benda-benda pusaka banyak, jenisnya banyak, ada keris, ada merah delima,” ungkap Mbah No.

Dijelaskannya, aura sekitar Ringin Sembilan sangat kuat dan paling kuat diantara tempat-tempat lain disekitar Sendang Tirto Kamandanu. Auranya positif, namun tidak sembarangan orang yang bisa mengetahuinya. Cara untuk mengetahuinya, dikatakan Mbah No, bisa dilakukan dengan cara pendeteksian.

“Disini paling kuat, auranya positif tapi lebih kuat. Aura kuat ini bisa dibuktikan oleh orang-orang linuwih (kelebihan). Dari barat, utara, selatan, timur, disini yang paling kuat. Biasanya kalau orang-orang yang bisa melihat, pasti kesini dulu, baru ketempat lainnya,” sambung Mbah No.

Benda-benda pusaka yang biasa dicari orang-orang, tidak semua bisa dibawa, bahkan cenderung lebih banyak yang dikembalikan lagi, usai orang tersebut berhasil mendapatkannya. Dikembalikannya benda-benda pusaka itu, tidak lain karena tidak ada kecocokan dengan orang yang mengambilnya, untuk menghindari dampak negatifnya, orang tersebut mengembalikannya.

“Jarang ada yang membawanya, paling banyak sudah dapat lalu dikembalikan lagi. Benda-benda pusaka itu dikembalikan karena tidak cocok dengan orang yang mengambilnya,” jelas Mbah No.

Terlepas percaya atau tidak percaya, pembuktian sejarah tersebut tidak lepas ingin menjalin komunikasi dengan seluruh elemen maupun komponen masyarakat, termasuk tokoh adat seperti Mbah No, yang setiap harinya berada di lokasi tersebut. Tempat ini bakal ramai dan padat pengunjung saat bulan Suro tiba, biasanya sebelum Suro, sudah banyak pengunjung yang datang dari berbagai daerah. (aang)

 

 

  • Whatsapp

Index Berita