Menelusuri Jejak Kesenian Jaranan Di Bumi Kediri

INDONESIASATU.CO.ID:

KEDIRI. Salah satu group seni jaranan yang ber-home base di Desa Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, bukan sembarang group jaranan. Ajang lombapun menjadi favorit untuk unjuk gigi, sekaligus berhasil meraih prestasi, sebagaimana predikat juara yang disandang group jaranan Putro Batoro dalam lomba karya ilmiah remaja bidang seni budaya se-Kabupaten Kediri pada tahun 2018 lalu. kamis (4/4/2019)

Serka Petrus, Babinsa Koramil Mojo melakukan interaksi sosial dengan pelaku atau tokoh central di balik seni jaranan seni jaranan, sekaligus mengenal lebih jauh tentang keberadaan kesenian yang eksis di Kediri ini. Pertemuanpun dilakukan di kediaman Dekky Susanto, salah satu dedengkot seni jaranan tersebut.

“Kami bersama 3 pilar Mojo, dari Koramil, Polsek dan Kecamatan, ingin agar seni jaranan tidak cenderung mengarah pada image negatif, dalam artian tidak anarkis. Saat ini banyak berita yang berkembang di masyarakat bahwasannya seni jaranan itu identik dengan ajang tawuran dan sejenis,” ujar Dekky.

Dekky menegaskan bahwa seni jaranan itu murni seni tradisional bukan ajang tempat tawuran. Intinya, sebagai warga Kediri yang baik, berharap semua pihak, baik pelaku maupun penonton untuk menguri-nguri budaya jawa.

“Jadi, semua pihak, dari pelaku hingga penonton, tidak minum-minuman keras, tidak bertindak anarkis. Pokoknya, kita ingin merubah image negatif, dengan menggandeng 3 pilar yang ada di Mojo ini,” pungkasnya.

Dekky berpendapat, regenerasi harus terus dilakukan agar budaya jawa tidak hilang dan tetap eksis seiring perubahan jaman. Seni jaranan jawa kreasi ini, dilakoni remaja SMP dan SMA se-Kecamatan Mojo dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Kenyataannya, pemain jaranan yang mayoritas pelajar tersebut, ternyata bisa diandalkan menjadi generasi penerus kesenian yang satu ini. Budaya tidak bisa dipungkiri, menjadi aset tak ternilai harganya dan harus tetap dilestarikan. Bukan mustahil, kesenian jaranan bakal menjelajah lintas benua untuk ditunjukkan kepada dunia.

Dijelaskan Dekky, pagelaran jaranan juga membutuhkan sesaji yang harus disediakan atau umumnya disebut gambuh, dan gambuh tersebut adalah dupa, buceng, kembang boreh, ulung-ulung dan kinangan.

Berdasarkan cerita tradisi turun temurun terkait seni jaranan di Kediri, asal usul kesenian tersebut berawal dari masa Pemerintahan Prabu Amiseno yaitu Kerajaan Ngurawan, dan ia memiliki yang cantik bernama Dyah Ayu Songgolangit. Diriwayatkan, Dyah Ayu Songgolangit mengeluarkan sayembara, dan sayembara itu sendiri berujung duel antara Prabu Singo Barong dengan Prabu Kelono Sewandono.

Pertarungan keduanya akhirnya dimenangkan oleh Prabu Kelono Sewandono, namun keberadaan Prabu Singo Barong itulah yang menjadi cikal bakal seni jaranan di Kediri. Hal ini disebabkan gerakan yang dilakukan Prabu Singo Barong menjadi sumber inspirasi lahirnya kesenian tersebut.

Di Kediri, kesenian yang satu ini kerap sekali menghiasi berbagai acara, entah itu bersih desa atau hajatan warga. Tetapi yang jelas, kesenian ini memiliki ciri khas yang membedakan dengan kesenian lainnya, dari musik hingga perlengkapan yang dikenakan. (aang)

 

  • Whatsapp

Index Berita