Meraup Untung Dari Bisnis Tanaman Jagung

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Kalau kita melihat dengan cermat keberadaan pedagang kaki lima yang berjualan jagung, entah itu jagung bakar atau jagung godok (matang), jumlahnya tidak sedikit, bahkan relatif dari tahun ke tahun makin bertambah.

Dari situlah, Serda Cahyo, Babinsa Koramil 21 Puncu, menelusuri sejauhmana potensi tanaman jagung dari dua sisi yang berbeda, yang pertama adalah petani dan yang kedua adalah pedagang jagung. Keberadaan pedagang jagung siap saji ini, mudah sekali dijumpai di tempat-tempat keramaian, dari alun-alun, sekolah, tempat wisata atau hiburan, hingga tempat-tempat strategis yang dilalui pejalan kaki maupun pengendara bermotor. sabtu (9/3/2019)

Penelusuran tersebut diawali dari Saeran, warga Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, kabupaten Kediri, yang sehari-hari berprofesi sebagai petani jagung. Lahan jagung milik Saeran ini cukup luas dan mencapai 0,5 hektar.

Menurut Saeran, hasil yang didapat dari tanam jagung di lahannya, bisa dikatakan cukup bagus. Bila menilik hasil sekali panen diatas lahan seluas 0,5 hektar miliknya, rata-rata bisa menghasilkan jagung seberat 3,5 ton hingga 4 ton.

Lantaran harga jagung bisa naik dan bisa turun, hasil “baku” tidak dapat diketahui, namun masih bisa diasumsikan berdasarkan naik turunnya harga jagung berdasarkan nominal rupiah. Dijelaskan Saeran, harga jagung bisa turun di angka Rp 4.000,- per kilogram dan bisa naik diangka Rp 6.000,-.

Bila diasumsikan harga jagung senilai Rp 4.000,- per kilogram dilepas ke pedagang, diperoleh income sebesar Rp 14.000.000,- hingga Rp 16.000.000,- dalam per 0,5 hektar. Sedangkan kalau diasumsikan harga jagung mencapai Rp 6.000,- per kilogram dilepas ke pedagang, diperoleh hasil sebesar Rp 21.000.000,- hingga Rp 24.000.000,-.

Umumnya, pedagang jagung selalu membeli “cash” atau tunai kepada Saeran, alias tanpa angsuran pembayaran atau hutang. Hal inilah yang menjadi alasan Saeran lebih condong menjual jagung miliknya kepada pedagang jagung, ketimbang ke pasar tradisional. Terlebih lagi, jagung yang dijualnya tersebut, tidak full 90 hari hingga 100 hari, lantaran jagung tersebut difokuskan untuk jagung bakar dan jagung godok.

Ditempat terpisah, Yoyok, warga Desa Ngasem, yang juga tetangga dari Saeran, sehari-hari menggantungkan “asap dapur” rumah tangganya dari berjualan jagung di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Ia membeli jagung tidak hanya dari Saeran saja, tetapi dari petani lainnya.

Dalam seharinya, Yoyok mampu menjual jagung sebanyak 100 buah hingga 200 buah (diwaktu-waktu tertentu).  Rata-rata, dalam satu kilogramnya ada 4 buah jagung, dan bila diasumsikan harga jagung yang harus dibelinya dari petani sebesar Rp 4.000,- per kilogram, maka Yoyok harus mengeluarkan rupiah dari dalam kantongnya sebesar Rp 100.000,- untuk 25 kilogramnya hingga Rp 200.000- untuk 50 kilogramnya.

Sedangkan kalau ada kenaikan harga jagung mencapai Rp 6.000,- per kilogram, Yoyok terpaksa harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi, yaitu sebesar Rp 150.000,- untuk 25 kilogramnya hingga Rp 300.000,- untuk 50 kilogramnya.

Jagung yang dijual Yoyok, hanya satu produk, yaitu jagung godok. Ia sendiri mengakui pernah menjual jagung bakar, namun hasilnya kurang memuaskan, akhirnya hanya satu produk saja yang dijualnya di kawasan SLG.

Dalam satu buah jagung godok, Yoyok menjualnya senilai Rp 2.000,- ketika harga jagung mencapai nominal Rp 4.000,- per kilogram. Otomatis, hasil laba yang diperoleh Yoyok untuk satu buah jagung, sebesar Rp 1.000,-. Hasil laba tersebut masih kotor, alias belum termasuk biaya penggodokan yang menggunakan elpiji.

Dari berjualan jagung ini, Yoyok dalam seharinya bisa meraup omset sebesar Rp 200.000,- hingga Rp 400.000,- atau laba kotor sebesar Rp 100.000,- hingga Rp 200.000,-. Dari jagung jugalah, Yoyok menafkahi istri dan 2 orang anaknya, sekaligus menyekolahkan anaknya ke strata pendidikan SD.

Penelusuran ini sendiri tidak lepas dari upaya mengeksploitasi potensi pangan yang ada di Kediri, sekaligus menggali segala hal yang mungkin bisa ditiru orang lain. Terlebih lagi, kondisi produksi jagung terlihat meningkat dari tahun ke tahun, dan hal ini perlu kejelian untuk mengambil manfaat, baik dari petani maupun pedagang, terutama pedagang kali lima. (aang)

 

  • Whatsapp

Index Berita