Ngobrol Bareng Komunitas Pecinta Warisan Budaya Keris

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Salah satu warisan budaya leluhur yang berstatus diakui dunia, dipamerkan oleh komunitas seni budaya keris di areal salah satu cafe yang terletak di Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota. Sertu Prasetyo mendatangi lokasi pameran tersebut, sekaligus berniat membedah realitas dunia perkerisan, langsung dari nara sumber, sekaligus pemilik keris. sabtu (23/2/2019)

Bincang santai dilakukan di meja kayu berukuran kecil dan disekitarnya ada kursi-kursi yang berbahan kayu, maksimal bisa muat sampai 5 orang dalam posisi melingkari meja. Perbincangan mengarah penggalian seputar dunia perkerisan dan kebetulan ada komunitas seni budaya keris yang duduk-duduk sambil ngobrol.

Pandangan Sertu Prasetyo tertuju pada tiga orang yang sedang asyik membandingkan keris miliknya masing-masing. Penggalian seputar dunia perkerisanpun terjadi di meja tersebut. Perbincangan diawali dengan menanyai Mulyadi, pemilik keris jenis Nogo Sosro, yang berdomisili di Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota.

Dikatakan Mulyadi, fungsi banyak macamnya. Dijelaskannya, keris berfungsi sebagai spiritual religius, psikologis, politis, status sosial, media komunikasi, magis, estetis dan arstistik, komoditas ekonomi dan pelengkap busana.

Bentuk atau kontur keris itu sendiri dalam dunia perkerisan, diistilahkan "Dapur", dan dapur keris adalah bentuk standard sebilah keris. Sebilah keris, menurut Mulyadi, ada tiga bagian, yaitu "Bilah" keris, bagian "Ganja" dan bagian "Pesi".

Dijabarkan Mulyadi, Pesi itu merupakan ujung tangkai, yang masuk ke dalam pegangan keris, atau umumnya disebut "Ukipan" atau Dedep". Sedangkan Ganja, merupakan alas dari kedudukan bilah keris, dan pada tengah Ganja, berlobang untuk lewat tangkai Pesi.

Ia menambahkan, sebilah keris, antara Bilah dengan ganja, merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan secara filosofis. Terkait ricikan dari Ganja, ada Sirah Cecak, Gulu Melet, Gendhok atau Wetengan, Sebit Ron dan ada Buntut Cecak atau Buntutan.

Beralih kepada Winarno, pemilik keris Tombak Biring, yang berdomisili di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, dijelaskannya Bilah atau Wilah, dibagi tiga bagian, yaitu bagian bawah Ganja atau dikenal dengan sebutan Sor-Soran, bagian tengah Bilah disebut Tengah dan bagian ujung yang disebut Pucuk.

Khusus untuk Pucuk, menurut konturnya ada empat macam, Ngudhup Gambir, Mbuntut Tuma, Ngabah Kopong dan Nyujen.

Keris lurus, tidak sama dengan keris berluk satu. Keris lurus tanpa luk atau Dhuwung Leres. Bentuk dapur keris lurus ini banyak sekali, terbanyak dibanding dengan keris luk manapun. Karena banyaknya, pada keris lurus inilah, banyak terjadi kesimpangsiuran soal nama dapur.

Kesimpangsiuran yang dikatakan Winarno, bukan soal sinonim nama atau istilah dari daerah satu dengan daerah lainnya, tetapi sampai pada perbedaan bentuknya. Terkait dapur, ada macamnya, seperti Tilam Upih, Tilam Sari, Jalak Tilam Sari, Jalak, Brojol, Bethok, Semar Bethak, Mahesa Teki dan lainnya.

Sementara itu, Bambang, pemilik keris jenis Tilam, yang berdomisili di kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota mengungkapkan, keris luk satu itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah keris lurus.

Tetapi, ia tidak menyangkal, ada yang berpendapat bahwa keris luk satu itu ada dan tidak alasan untuk tidak ada. Tapi keris luk satu memang langka dan dapur keris luk satu tidak banyak variasi.

Menurut M.Mubarok, salah satu sesepuh komunitas tersebut, UNESCO atau United Nation Educational Scientific and Cultural Organization yang bergerak dibidang pendidikan dan kebudayaan, pada tahun 2005 silam, keris telah diakui keberadaannya sebagai warisan budaya Indonesia.

Keberadaan komunitas seni budaya keris ini, tidak lepas sebagai upaya melestarikan warisan leluhur, agar tetap eksis sampai kapanpun. Menurutnya, tanpa ada upaya pelestarian warisan bangsa sendiri, niscaya generasi mendatang bakal tidak tahu keberadaan budaya yang mendunia, seperti keris. (aang)

 

 

  • Whatsapp

Index Berita