Penelusuran Historis Dan Serba Serbi Gereja St.Maria Lourdies Kediri

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Kawasan seluas 13,5 hektar yang berada di lereng Gunung Wilis atau tepatnya di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tidak hanya dijadikan tempat ibadah bagi umat Kristen Katolik, tetapi sudah menjadi icon wisata religi.

Kawasan ini  berada pada ketinggian 412 meter dpl dengan suhu rata-rata mencapai 24 hingga 28 derajat celcius, dan Gereja St.Maria Lourdies di Kediri ini adalah kembaran dari Gereja St.Maria Lourdies yang ada di Perancis.

Rasa penasaran ingin tahu lebih jauh keberadaan wisata religi di lereng Gunung Wilis ini, Pelda Endro Wibowo menjumpai 3 narasumber, sekaligus menggali lebih dalam apa saja yang ada ditempat ini. Ketiga narasumber tersebut, Suparno seorang pemerhati budaya, Wicaksono salah satu seniman dan Ngariyoso salah satu Satpam yang menjaga tempat tersebut. minggu (17/3/2019)

Menurut Suparno, maket gua yang ada di kawasan tersebut dibuat J. Sumartono, seorang  dosen senirupa dari  Yogyakarta, dan berdasarkan maket tersebut A.S. Rush serta Harry Widayanto merancangnya.  Pembangunannya sendiri, kedua perancang tersebut dibantu Djoko  dan Bernard, dalam urusan pembuatan relief gua.

Tinggi gua ini mencapai 18 meter dengan lebar 17 meter, dan di dalam gua terdapat tulisan di atas kuningan bertuliskan “Iboe Maria ingkang pinoerba tanpa dosa asal, moegi mangestonana kawoela ingkang ngoengsi ing Panjenenengan Dalem.”

Dijelaskan Suparno, pada tanggal 11 Oktober 1998, dimulailah proses pembangunan gua Lourdes, dan tanggal 2 Mei 1999, diresmikan Mgr.J. Hadiwikarta. Terkait bahan dasar pembuatannya, patung ini terbuat dari semen dengan tinggi patung mencapai 1,75 meter, namun bila dihitung dari alas kaki patung ini dengan alasnya tingginya mencapai 3,5 meter atau 4 meter bila diukur hingga dasar permukaan.

Sementara itu, dibagian bawah patung Bunda Maria terdapat lubang yang berukuran cukup besar dengan undak-undakan kecil. Disampingnya terdapat lubang gua yang juga berukuran cukup besar, dan didalamnya terdapat semacam meja yang terbuat dari batu marmer.

Di tempat ini ada yang namanya Tiga Jalan Salib, yang pertama ada di sekitar keberadaan gua, yang kedua disekeliling Taman Hidangan Kana, dan yang ketiga di bagian belakang berupa stasi-stasi renungan dengan bentuk-bentuk patung besar. Jalan Salib ini diresmikan pada tanggal 28 Mei 2008 dan di tahun 2011 ditambahkan beberapa stasi.

Masih ditempat yang sama, Wicaksono menjelaskan, bahwasannya pada tahun 1936 Gereja ini didirikan atas inisiatif dari Romo Jan Wolters dengan bantuan Henricus Maclaine Pont. Menurut jejak riwayatnya, Romo Jan Wolters dikenal sebagai pemerhati kebudayaan Jawa dan mencintai segala kekayaan kulturalnya.

Sangat wajar, apabila Henricus Maclaine Pont arsitek yang menangani pembangunan Museum Trowulan, Mojokerto, berbackground sejarah Kerajaan Majapahit, digandeng Romo Jan Wolters. Jadi, kedua bangunan, Museum Trowulan dengan Gereja St.Maria Lourdies yang notabene berbeda lokasi ini, memang bisa dikatakan sangat mirip walaupun berbeda fungsi, lantaran didesain oleh orang yang sama.

Menurut Wicaksono, beberapa seniman luar daerah yang datang ke lokasi ini, menyatakan Gereja ini sarat dengan simbolisme dan merupakan suatu karya arsitektur yang bisa dilihat dari berbagai segi, mulai dari lokasi, tata taman, bahan bangunan, struktur dan keindahannya. Semua aspek termasuk budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan amat selaras.

Sebagaimana dituturkan Ngariyoso, dibawah gua ini terdapat 12 mata air yang sudah disterilkan lebih dulu sehingga bisa langsung diminum. Terkait adanya keyakinan bahwa air suci di gua tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan memberi anak.

Diceritakan Ngariyoso, usai secara resmi dinyatakan selesai pembangunannya, ada  warga asal Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, yang sudah menderita komplikasi selama 2 tahun dan sudah mengeluarkan banyak biaya, tak kunjung sembuh. Lalu ia berspekulasi mencoba minum air yang ada di goa.

Setelah minum air tersebut dan menghabiskan berbotol-botol, selang beberapa hari kemudian ia merasakan badannya mulai ada perubahan. Selanjutnya ia mendatangi rumah sakit tempat dimana ia dulunya diperiksa, ternyata penyakitnya ada tanda-tanda kesembuhan. Perubahan pada dirinya ini, lantas dibalasnya dengan membagi-bagikan buah-buahan kepada siapa yang ditemuinya di gua tersebut.

Ngariyoso menambahkan, ada lagi warga asal Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang sudah menikah lebih dari 5 tahun, namun belum memiliki anak. Sama dengan warga yang berasal dari Kepung, warga asal Mojoroto ini berspekulasi meminum air didalam gua, pasca proses pembangunan gua dinyatakan selesai.

Selang setahun kemudian, diketahui keluarga asal Mojoroto itu membawa banyak roti atau kue kepada seluruh orang yang dijumpainya, dengan menggendong anaknya yang baru berumur beberapa bulan, lalu mereka menceritakan bahwa mereka pernah datang ke lokasi ini setahun yang lalu.

Dari keterangan salah satu jemaat Gereja ini di lokasi tersebut, diwaktu-waktu tertentu Gereja ini akan ramai, entah itu memang benar-benar umat atau pengunjung biasa, dalam artian wisatawan. Eksplorasi ini dilakukan tidak lepas dari menggali potensi daerah yang ada di Kediri, sekaligus menambah wawasan maupun pengetahuan, gtermasuk salah satunya wisata religi. (aang)

 

 

  • Whatsapp

Index Berita